Monday, 18 April 2016

Tiga Spesies Baru Tikus Lemur Ditemukan di Madagaskar

SENIN, 18 APRIL 2016 | 17:01 WIB
Tiga Spesies Baru Tikus Lemur Ditemukan di Madagaskar
Lemur kerdil di Madagaskar barat. Scienceworldreport.com
TEMPO.CO, Jakarta - Para ilmuwan dari Pusat Primata Jerman, University of Kentucky, Amerika Duke Lemur Center dan Université d'Antananarivo di Madagaskar menemukan tiga spesies tikus lemur baru. Ketiganya tinggal di Selatan dan Timur Madagaskar dan meningkatkan jumlah spesies tikus lemur hingga 24 ekor.

Tiga spesies baru ini dinamakan tikus lemur Ganzhorn (Microcebus ganzhorni), Microcebus manitatra, dan Microcebus Boraha.

Microcebus ganzhorni diberi nama dari ekologis dari Hamburg University, Jörg Ganzhorn, yang terlibat dalam penelitian dan perlindungan lemur selama beberapa dekade. Ganzhorn yang menginisiasi penelitian Pusat Primata Jerman di Madagaskar pada 1990.

Sejak 20 tahun lalu, hanya dua spesies dari makhluk kecil ini, yang diketahui sebagai primata nokturnal. Metode genetik baru dan ekspedisi ke daerah terpencil telah membuat penemuan baru.

"Dengan metode baru yang bertujuan menilai perbedaan genetik antara individu, kami mampu menemukan bukti independen bahwa tiga tikus lemur ini mewakili spesies baru," kata Peter Kappeler, Kepala Ekologi Perilaku dan Sosiobiologi Unit di Pusat Primata Jerman, pertengahan April 2016.

Kappeler mengatakan teknik genetik yang digunakan bisa memfasilitasi identifikasi spesies. Dengan demikian, teknik ini juga memberikan kontribusi untuk deskripsi baru lebih lanjut dalam kelompok hewan lainnya.

Tikus lemur kecil, primata nokturnal hanya ditemukan di Madagaskar. Mereka semua terlihat sangat mirip dengan bulu coklat dan mata yang besar. Spesies hanya dapat dibedakan melalui metode genetik yang andal. Besarnya perbedaan antara dua populasi harus didiskusikan lebih lanjut. 



Tiga tahun lalu kelompok penelitian yang sama juga menemukan dua spesies baru tikus lemur. Hubungan yang terdekat adalah tikus lemur Madame Berthe seberat 30 gram yang merupakan primata terkecil di dunia, ditemukan Pusat Primata Jerman pada 1993.

Selain meningkatkan metode analisis, ekspedisi ke hutan terpencil dan sulit terjangkau berkontribusi membuat keragaman saudara jauh manusia ini menjadi lebih dikenal.

"Untuk mengetahui wilayah distribusi yang tepat dari spesies individu diperlukan untuk mengidentifikasi fungsi kawasan lindung," kata Kappeler. Ia telah melakukan penelitian di Pusat Primata Jerman di Madagaskar lebih dari 20 tahun. Informasi baru ini, kata dia, merupakan elemen penting untuk memahami munculnya keanekaragaman hayati di Madagaskar.

Menurut "Daftar Merah" dari International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN l)ebih dari 100 spesies lemur terancam punah dan merupakan kelompok yang paling terancam di dunia mamalia. Deforestasi dan perburuan adalah penyebab utama ancaman terhadap lemur di salah satu negara termiskin di dunia itu.

SCIENCE DAILY | TRI ARTINING PUTRI

No comments:

Post a Comment