Minggu, 17 April 2016 | 14:37 WIB

Sebuah hotel mengalami rusak parah akibat
dihantam gempa 7,8 SR yang terjadi di lepas pantai laut Pasifik, Manta,
Ekuador, 16 April 2016. REUTERS (kiri); AP Photo
Gempa berkekuatan 7,4 skala Richter mengguncang di pantai tengah Ekuador dengan pusat gempa berjarak 173 kilometer dari ibukota Ekuador, Quito pada 16 April 2016. Hingga berita diturunkan sedikitnya 77 orang meninggal dunia. Beberapa gedung dan jembatan di kota Manta dan Guayaquil runtuh.
“Pemerintah dan Rakyat Indonesia menyampaikan simpati dan belasungkawa terhadap Pemerintah dan Rakyat Ekuador, khususnya korban dan keluarga korban,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri lewat rilis yang diterima Tempo, Minggu, 17 April 2016.
Pemerintah setempat telah menyatakan keadaan darurat nasional dan mengeluarkan peringatan tsunami. Evakuasi di daerah pesisir pantai Ekuador terus dilakukan.
“Dari hasil koordinasi di dapat informasi bahwa sejauh ini tidak ada laporan WNI menjadi korban gempa dan masyarakat Indonesia dilaporkan dalam keadaan baik,” ungkap Kemenlu RI.
Data Kedutaan Besar RI di Quito, jumlah WNI yang berada di Ekuador berjumlah sekitar 45 orang dan sebagian besar tinggal di daerah pegunungan. Dua WNI berprofesi sebagai pelaut terdata tinggal di daerah Manta, dekat lokasi gempa.
“KBRI Quito terus memantau keadaan para WNI dan menghimbau para WNI untuk tetap waspada dan menghindari berpergian ke daerah pesisir pantai Ekuador,” demikian rilis Kemenlu RI.
KBRI Quito menyatakan akan terus berkoordinasi dengan otoritas setempat serta jaringan masyarakat Indonesia di Ekuador untuk memonitor perkembangan situasi pasca gempa. Hotline KBRI Quito adalah +593 99 727 8520 dengan Herman.
NATALIA SANTI
No comments:
Post a Comment